Sunday, November 22, 2009

Maaf

saat ku putar rekaman pahit suatu masa
saat ku ingat waktu jahiliyah
saat ku bermuhasabah kepada-Nya
saat ku bersimpuh pada-Nya meminta sebuah solusi
saat ku putuskan untuk menyadari
saat ku sadari itu amat salah
saat ku kuketahui itu hanyalah palsu

dan
saat itu sudah menjadi kerak,
aku hanya ingin berucap, "maaf, aku sudah menemukan cintaku, labuhan yang abadi. ku takut Ia jadi cemburu padaku. padahal, untuk saat ini, Ia tak ingin diduakan!"

Monday, November 2, 2009

Pernah..

Ada suatu masa, ketika bahagia.
Bahagia? Ya, tapi jahil! Menabrak pagar norma-norma Islam!
Dan ia, akhirnya, atas izin Allah, menyadarinya..
Dan memperbaikinya.

Maka, ia pun menyampaikannya pada si dia.
Sebab, akibat, kemudharatan, murka Allah, dan sebagainya.
Dan ia pun mulai hari itu bertekad, untuk lupakan hal itu..

Tapi, ia juga manusia lho, bukan malaikat!
Yang kadang lupa dan kurang ajar..
Lagi-lagi, ia lakukan kesalahan itu lagi, dan kali ini sangat halus!
Saking halusnya, tak teraba oleh jari, tak terlihat oleh mata!
Ma'afkan ia Ya Allah, ia sedang khilaf..
Tetapi lagi, akhirnya ia terbebas, berkat tarbiyah yang mencerahkan..

Walaupun, riak-riak itu seringkali muncul, seringkali pula dapat ia tepis..
Ah, indahnya tarbiyah ini!
Kadang terasa berat, tapi itu yang tak terlaknat!
Kadang terasa duka, tapi itu lah sukanya!

Tapi, tak pernah tebersit pun keinginan,
untuk lagi ulangi ulangi ulangi laknat itu, kemesraan yang zhalim itu!
Wahai aktivis da'wah, belum cukup kah mulut murabbi kalian berbusa-busa,
selalu mengingatkanmu, yang dirasa sudah amat mampu,
dan paham bagaimana medan da'wah ini,
dan bagaimana kita berkiprah seharusnya..
Hei, tahukah? Kalian adalah pembawa pembenaran atas lahan ini,
bukan malah terseret arusnya kejahiliyahan!
Ah sudahlah, hanya do'a yang dapat terlaksana,
selepas ikhtiyar yang memerkasa..
Karena, hidayah hanya datang dariNya..

Sunday, November 1, 2009

Oh, Rasulullah..

Bismillah..

Kawan, simaklah kisah berikut.

Pagi itu, meski matahari telah menerpakan cahaya hangatnya, burung-burung nampak enggan untuk mulai berkicau. Pagi itu, meski udara sudah mulai menghangat, terasa angin begitu segan menerpa dedaunan yang tak kunjung berdesau.

Pagi itu, di sebuah mimbar syahdu penuh iman, suara sang kekasih Allah terdengar serak dan menggetarkan.

"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barangsiapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah yang nyaris singkat itu diakhiri dengan pandangan penuh cinta Rasulullah menyapu sahabat-sahabat terkasihnya. Ditatapnya dalam kedua mata Abu Bakar. Berkaca-kaca. Meneteskan air mata. Umar. Nafasnya sedikit memburu, dadanya terasa sesak. Sesak menahan kepiluan yang meluap-luap. Utsman, terdiam membisu. Menatap dalam kedua mata sang Rasul dengan tanpa sepatah kata. Dan, Ali. Sang Karamallahu Wajhah, menunduk tak kuat menahan isaknya.

Hari itu telah tiba. Hari dimana penduduk bumi merelakan manusia terbaiknya menjadi penduduk akhirat. Entah, berduka, atau bersuka cita, perasaan tercampur baur menjadi satu. Sang angin hanya berhembus pelan. Terasa ikut meratapi kepergian Rasulullah.

“Rasulullah akan meninggalkan kita..”, bisik para sahabat.

Isyarat itu menjadi semakin kuat tatkala Rasulullah menuruni mimbarnya dengan kaki gemetar dan melemah dengan bopongan Ali dan Fadhal. Membuat yang melihat tak kuasa menahan deraian air mata dalam degup jantung yang berdetak kencang.

Ya Rasulallah, ya Habiballah.

Matahari meninggi. Namun dengan cahayanya yang seakan pilu. Tak ada angin bersepoi. Sunyi bagai malam.

“Assalamualaikum..”, ketuk seorang pemuda.

“Waalaikumussalam.”

“Bolehkah saya masuk?”, tanya pemuda itu sopan.

“Maafkan. Namun Ayahanda sedang demam hari ini..”

Sang tamu terdiam di luar.

“Siapa wahai Fatimah anakku?”, tanya Rasulullah. Tampak wajah Rasul yang semakin berkeringat dan pucat, membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

“Tidak tahu, ayah. Nampaknya Beliau baru saja pertama kali kesini..”

Rasul menatap dalam mata anaknya dengan pandangan menggetarkan. Lekat-lekat. Dalam. Hangat. Seakan tak ingin dilepaskannya barang sedetik pun.

“Ketahuilah anakku. Dialah pencabut kenikmatan sementara dunia. Dialah yang memisahkan perjumpaan di dunia. Dialah Malaikat maut..”

Fatimah tak kuasa menahan tangisnya. Berderai air matanya dalam diam. Sesak sekali dada ini rasanya.

Sang Izrail masuk dengan takzim. Diberi salam Rasulullah. Salam berbalas, Rasulullah bertanya.

“Mana Jibril? Tak adakah ia bersamamu?”

Segera Jibril dipanggil, untuk bersalam menyapa sahabatnya di detik terakhirnya di dunia. Rupanya sang jibril tengah bersiap bersuka cita menyambut ruh sang Nabi di pintu Surga dengan segenap penduduk langit yang ada.

“Wahai Jibril, apa hak-hakku nanti di hadapan Allah?”

“Ya Rasul. Seluruh penduduk langit tengah bersiap menantimu. Pintu-pintu langit telah dibuka. Semuanya bersuka cita. Penduduk surga telah menyambutmu”

Tak ada tampak pandangan Rasul berubah. Tetap diam dan memancarkan kecemasan.

“Engkau tak suka, Ya Rasul?”

“Jelaskan, bagaimana keadaan umatku nanti?”

“Jangan khawatir wahai Rasul. Telah kudengar Allah berfirman kepadaku, “Aku haramkan surga bagi siapa saja sebelum umat Muhammad berada di dalamnya.”"

Detik detik semakin dekat. Tiba saat Izrail menunaikan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,urat-urat lehernya menegang.

...

"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini..", lirih Rasulullah.

Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.

“Jijikkah engkau wahai Jibril, hingga kau palingkan wajahmu?”, rintih Rasulullah.

“Duhai Habiballah, Siapakah yang sanggup melihat Rasulullah kekasih Allah yang mulia direnggut ajalnya?”

Angin-angin sekarang benar-benar telah berhenti berhembus. Seluruh alam raya bertasbih. Penduduk langit bershalawat. Penduduk bumi bersimbah duka.

Sebentar kemudian Rasulullah berdoa karena sakit yang tak tertahankan itu,

“Ya Allah betapa dahsyat sakit sakaratul maut itu. Timpakan saja seluruh rasa sakit ini kepadaku ya Rabb, jangan kepada umatku..”

Badan Rasulullah mulai dingin. Kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Sesaat kemudian Ali segera mendekatkan telinganya ke mulut Rasulullah.

“"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku.." Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu..”

Diluar pintu, tak hanya bumi yang menanggung kesedihan mendalam. Para sahabat mulai berisak tangis. Berpelukan. Saling meresonansi getaran kerinduan yang tak terperi ditinggal sang kekasih. Seakan kesedihan itu merayap menyelusupi jiwa setiap makhluk yang hidup.

Ali kembali mendekatkan telinganya. Dari mulut kebiruan Rasulullah, terdengar satu kata yang membersamai keimanan kita hingga kini. Kata-kata penuh cinta yang senantiasa mendekap setiap umat Muhammad dalam perjalanan hingga akhir masa nanti.

“Ummatii.. Ummatii.. ummatii...”

Terbanglah sudah ruh mulia itu. Meninggalkan kenangan dan risalah terbaik sepanjang zaman. Ruh yang senantiasa mencintai kita bahkan hingga dalam masa perpisahannya dengan dunia. Ruh Muhammad, manusia terbaik akhir zaman.


Tidakkah kalian menyadari, sebegitu besarnya cinta Rasulullah Muhammad pada kita, sampai-sampai dalam ucapan terakhir terakhir dalam hidupnya, sempat-sempatnya beliau menyebut kita?
Ah.. Rasanya seluruh air mata ini pun tak cukup untuk mengekspresikan rasaku padamu ya Rasulullah..

Dan cerita itu, hanyalah secuil dari kesempurnaan hidup beliau, hidup yang ia abdikan untuk Allah dan Islam. Lihatlah realita sekarang kawan! Islam, hanyalah sebuah agama, yang berfungsi sebagai nama agama di KTP, bukan lagi menjadi kebiasaan apalagi pedoman hidup. Omong kosong jika kita mengharapkan kejayaan Islam, jika, mengaji saja pun kau tak bisa! Oh maaf, jangankan mengaji, memegang Al-Qur'an saja mungkin hanya saat pelajaran agama Islam di sekolah, atau bahkan, tidak pula! Sungguh lah, mengapa moral bangsa ini BEJATTT! BIADABBB! Bapak membunuh anak. Anak membunuh bapak. Bapak memerkosa anak. Anak memerkosa Ibu. Argh..

Fakta umat Islam kini, kesadaran dalam diri, bahwa menuntut ilmu islam, ilmu syar'i, minim, dan kuantitasnya pun sedikit. Padahal, segala tindakan dan perilaku kita haruslah diawali dengan ilmu. Al ilmu qablal qaul wal amal. Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan. Ilmunya saja tidak ada, bagaimana mau berkata dan bertindak?

...

Mari teruskan perjuangan beliau! Memang, susah. Tapi susah, bukan berarti tidak mungkin. Selalu ada penyelesaian di balik kesulitan dan tantangan.

Maka, sampai sini, maukah kita bersama-sama meneladani rasul kita, nabi kita, Rasulullah Muhammad, pribadi sempurna manusia, akhlaq sempurna manusia? Diawali dengan apa? Tuntutlah ilmu! Ikutilah daurah-daurah! Rajinlah halaqah! Karena memang itu lah yang seharusnya kita, seorang muslim, lakukan..

Saturday, October 31, 2009

Ahlan Wa Sahlan!

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang menyeru kepada (jalan) Allah, beramal shalih, dan mengatakan, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim"?
Fushshilat 33

Di saat kita bersenda gurau dalam aktivitas kita, sesungguhnya orang-orang kafir dari Yahudi dan Nasrani selalu mengevaluasi cara-cara melalui siasat dengan menyusun sistem pemusnahan untuk umat Muhammad ini.

Sungguh tergetar hati ini, gemuruh di dada membakar semangat da'wah.. Islam sedang membutuhkan kader-kader da'wah yang berkualitas! Mengingat urgensi da'wah dalam mewujudkan Islam yang rahmatan lil 'alamin, maukah antum menemani ana menempuh jalan mulia ini?